Belajar Islam di Tanah Minoritas

Halo, halo… Long time no see in this wordpress world!! Biasalah kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir di Ghent University ini makin lama semakin membuat waktu online terbatas, apalagi untuk berdiam diri mencari inspirasi tulisan dan menuliskannya dengan apik di blog, hehee..

But anyway, kesibukan semester ketiga, means semester pertama, tahun kedua di sini gak melulu belajar. Weekdays probably yes, of course. But in the weekend I have many others thing to do, salah satunya adalah BELAJAR ISLAM, atau mungkin singkatnya disebut pengajian, walaupun pertemuannya gak melulu diisi mengaji, tapi juga dilengkapi dengan tafsir dan tausiyah. Subhanallah, jauh-jauh di Eropa sini, di tanah minoritas agama Islam, saya masih tetap bisa dengan mudah mendapatkan akses belajar Islam. Kalau saya bisa bandingkan, mungkin frekuensi saya ikut kajian-kajian di Indonesia masih kalah jauh dibanding slama di sini. Kalau selama di Indonesia, excuse-nya selalu sibuk dan saking banyaknya akses ke kajian-kajian Islam gitu, jd malah “take them for granted”.ย Ah, masih bisa lah minggu depan, minggu depannya, bisa lah minggu depan lagi, procrastinating in assumption that we can still be able to get it another time. Tapi di sini lain. Semua kajian berasa BERHARGA. Ada ustadz ini dtg ke KBRI Brussels, dikejar-kejar, dibela-belain untuk dateng karena berpikir: KAPAN LAGI?? Jarang-jarang ustadz dr Indo dtg ke Eropa, ke Belgia pula. Selain masalah “KAPAN LAGI”-nya itu, hal yang membuat setiap kajian Islam di Belgia ini berharga adalah saat saya merasakan ketenangan luar biasa setelah menghadirinya. Kalau di Indonesia mungkin sering sekali mendengar adzan, ceramah, orang baca Qur’an, kalau di sini, SEPI. Hanya ada satu adzan yg bisa didengar di rumah, yaitu dari Laptop, tidak ada lagi suara adzan bersahutan yg membuat merinding, tidak ada lagi saat exteremely relieved when you hear adzan to break your fast. Saya hanya melihat jam untuk memastikan waktu shalat, terutama ketika di luar rumah. Dan itu rasanya kosong. Juga di tengah kehidupan Eropa yang begitu gemerlap di malam hari, suara bar begitu kerasnya, orang mabuk di mana-mana. Maka dari itu, perkataan teman saya, Yosi Ayu Aulia mengenai kajian Islam di sini sangat benar: OASE DI TENGAH SEKULARISME :”)

“Alaa bidzikrillahi tatmainul qulub..Ingatlah, HANYA dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Q.S Ar-Ra’ad : 28

Mamah saya meng-“quote” ayat Qur’an satu ini dengan penekanan pada kata HANYA. The one and only, no one or nothing can make you feel relieved, peaceful except remembering Allah. Yang lain hanya ketenangan semu sesaat. Terasa sekali ketika merasa jenuh dengan kehidupan slama weekdays yg penuh dengan tugas, tugas dan tugas, lalu ingin bersantai lewat nonton film lah, tumblr-an lah, main buzz light year, belanja, dll, itu semua hanya bertahan sesaat. Beda rasanya ketika membuka Qur’an, membacanya, apalagi ketika dikaji bersama teman-teman, sehingga rasa persaudaraan dan silaturahiim pun timbul. Subhanallah, rasanya semua itu memberi kekuatan kembali, Alhamdulillah ๐Ÿ™‚

Dan tidak disangka, ternyata banyak sekali wadah untuk mengkaji Islam di Belgia sini:

Pertama, KPMI Gent, Belgia (Keluarga Pengajian Muslim Indonesia di Gent).

Dari lingkup terkecil, yaitu kota di mana saya tinggal, Gent. KPMI Gent mengadakan pengajian rutin satu bulan sekali di minggu pertama. Anggotanya bukan hanya penduduk muslim Indonesia di Gent, tapi juga kota-kota sekitar Gent, seperti De Pinte, Aalst, Erpe Mere, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Genk dan Namur. Kami ini seperti keluarga besar muslim, mengadakan pengajian rutin dengan host yang bergilir. Terkadang di Gent (biasanya rumah Kang Ichal, mahasiswa Ph.D yg sudah berkeluarga menjadi basis kami), De Pinte (Rumah Wak Ann, sesepuh Gent yg sudah tinggal di Belgia selama 30-an tahun, juga rumah Mbak Maya), Erpe Mere (rumahnya Kak Lely dan Pak Bakhtiar, keluarga yang juga sudah tinggal lama di Belgia), dan sekarang-sekarang ini ditambah juga dengan Kota Aalst, rumah Mak Cik Nur yang sudah 9 tahun tinggal di Belgia, beliau ini orang Malaysia, tapi ingin ikut juga pengajian KPMI Gent, NAH, di sinilah juga salah satu bukti bahwa kami penduduk Indonesia dan Malaysia di Belgia hidup rukun, kok ๐Ÿ™‚

Setiap pengajian, karena digilir, giliran masak pun ikut digilir. Terkadang mahasiswa Gent kebagian juga, kemarin kami, dengan bantuan resep dari mamah dan internet, membuat Laksa betawi dan siomay ayam-udang, Alhamdulillah semua suka masakan kami ๐Ÿ˜€ Dan serunya, di akhir pengajian kami berfoto ria dulu, seru deh melihat perubahan wajah anggota KPMI Gent dari waktu ke waktu… :”)

Image

Apa saja kegiatan kami selain masak-masak dan makan-makan? Tentunya diawali dengan membaca Qur’an, biasanya masing2 3 ayat, dilanjutkan dengan tafsir, lalu tausiyah dari Pak Bakhtiar, Mas Wahyu atau sekarang Pak Nanang, baru ada sesi tanya jawab. Biasanya kami juga shalat berjama’ah baru diakhiri dengan makan malam. Alhamdulillah, selalu pulang dengan hati tentram dan kenyang, hehehee..

Kedua, Pengajian online muslimah Indonesia Belgia.

Diinisiasi oleh Mbak Elly yang tinggal di Kota Leuven, muslimah setiap minggunya mengadakan pengajian online via skype. Saya sendiri baru bergabung di tahun kedua ini, entah mengapa agak menyesal juga, kenapa gak dari tahun pertama dulu, selalu ada excuse-nya untuk pengajian online ini. Pengajian via skype yg diadakan setiap hari Jumat malam, waktunya fleksibel sesuai kesepakatan, juga selalu diawali dengan tadarus bersama, Uniknya, kami digilir untuk memberikan “kultum”, jd selain kita mendapat ilmu dari orang lain, diri sendiri juga bisa menjadi manfaat untuk orang lain. Belajar untuk sharing ilmu ๐Ÿ™‚

Image

Uniknya lagi, karena ada beberapa anggota pengajian yg belum pernah sama sekali bertemu, diadakanlah semacam kopi darat minggu lalu di Kota Leuven, tempat Mbak Elly tinggal. Di sana kami akhirnya mengadakan pengajian “offline” hehehee, dengan format mirip dengan pengajian online, ditambah kali ini bonus cerita Mbak Elly sehabis pulang dari menunaikan ibadah haji. Selain itu, di pengajian kali ini, kami bertukar kado, dengan harga kado ditentukan tidak boleh lebih dari 5 Euro. Masing-masing orang membawa kado, kemudian diundi siapa mendapat kado dr siapa. Saling memberi hadiah ini juga ternyata dianjurkan oleh Rasulullah SAW:

โ€œSaling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang rasa dengki; dan saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian kalian akan saling mencintai dan akan lenyap rasa permusuhan.โ€ย (HR Malik)

Alhamdulillah saya dapat lilin cantik dari Mbak Neno ๐Ÿ™‚

Image

Dan seperti biasa, pengajian diakhiri dengan foto bersama untuk pertama kalinya, oh iya, nama pengajiannya adalah PENGAJIAN AZ-ZAHRA.. Semoga bisa istiqamah untuk mengikuti pengajian satu ini ๐Ÿ™‚

Image

Kajian Islam terakhir yang biasa saya ikuti adalah pengajian rutin bulanan KPMI Belgia yang diadakan di KBRI Brussels. Karena tempatnya lumayan jauh, sehingga tidak bisa hadir setiap bulan, tapi Subhanallah sekali sejak saya tinggal di Belgia, sudah ada 3 Ustadz/Ustadzah dari Indonesia yang bertandang ke Brussels dan memberi ceramah. Di sinilah saya bela-belain datang, untuk mendapatkan siraman rohani dari beliau-beliau ini. Yang akan saya ceritakan di tulisan berikutnya (Part 2)…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s