Lab Research and Pregnancy

Hai, Hallo, Assalamu’alaikum semuanya.. Mohon maaf yang besar sekali karena sudah absen menulis di Blog ini selama setahun.. Iya, setahuun!!! Lama banget yaa.. Maaf juga karena banyak sekali komentar2 yang belum diapprove dan dibalas satu per satu.. Selama setahun ini saya memang mengabsenkan diri dari wordpress yang satu ini karena saya maluuu sekali.. Ide awalnya membuat blog ini adalah untuk sharing kehidupan saya di eropa selagi menjadi mahasiswa, sejak dulu mahasiswa Master, sampai lulus, kemudian mahasiswa doktoral.. Tapi ternyata setahun ini (mungkin 1,5 tahun ya), saya merasa jauuuh sekali dari Ph.D candidate.. Jauh sekali dari mahasiswa yang giat melakukan riset.. Lebih fokus sama keluarga, karena sekarang sudah punya anak juga.. Cerita ttg riset sambil mengurus anak akan diceritakan lebih mendetail di post selanjutnya yaaa.

Intinya sih saya merasa prioritas saya bergeser, bukan lg fokus lulus Ph.D, fokus riset, tapi jadi fokus membesarkan anak dan banyak2 bersama anak.. Hal ini dimulai dari pertengahan tahun 2014, sejak saya mulai hamil.. Saat saya hamil itu benar2 di luar skenario, saya mengetahui bahwa saya hamil setelah suami saya pulang ke Indonesia setelah 2 minggu honeymoon di Eropa.. Saya mengira bahwa masa subur saya itu setelah kepergian suami, ternyata Allah menakdirkan berbeda, saya harus hamil di tengah2 riset tentang kanker usus besar yang sedang saya jalani..

Saat hamil sendirian di rantau, itulah saat terberat bagi saya seumur hidup saya. Allah memberikan cobaan mual dan muntah yang cukup parah, tidak cukup hanya morning sickness, tp mual ini berlangsung sepanjang hari, kadang sampai tengah malam, dan sampai saya mengalami heartburn, yaitu asam lambung naik ke kerongkongan, sangat menyiksa, dan itu saya dalam keadaan sendirian, untuk makan pun saya harus memasak sendiri.. Alhamdulillah kadang ada teman yang berbaik hati datang ke rumah.. Juga pada bulan kehamilan ke-2 menuju 3, saat parah2nya mual, Mas Fikri bisa datang kembali menemani saya.

Namun, akibatnya riset saya harus terbengkalai, saya total tidak bisa mengerjakan apa pun, bahkan keluar rumah pun mual sekali dan muntah di jalan akhirnya.. Hal ini berlangsung sampai umur kehamilan 5 bulan.. Ketika mual membaik, bulan ke-5 saya mulai kembali ke lab. Setelah sebelumnya saya berkonsultasi di Rumah Sakit Universitas UGent (Universitair Ziekenhuis UGent), ke semacam Departemen Keselamatan Kerja, ternyata menurut dokter yang meng-assess risk pekerjaan saya terhadap pregnancy, resiko pekerjaan saya di laboratorium sangat tinggi, karena memakai berbagai bahan kimia berbahaya dan karsinogenik seperti PAV (Paraformaldehyde), Ethidium Bromide, Trypan Blue, DAPI Doxorubicine. Namun, ketika saya sampaikan surat dari dokter di UZ kepada Professor saya, beliau menyarankan untuk terus saja kerja di lab, dan saya hanya harus menghindari bahan2 berbahaya tersebut. Tidak ingin argumen banyak sama Professor, akhirnya saya mengiyakan saja dan tetap bekerja di lab. Saat Bulan ke-5 kehamilan, saya mulai lagi kerja di lab, yang ternyata walaupun mual nya sudah jauh lebih baik dibanding bulan 2 dan 3, tetap saja saya muntah2 selama mengerjakan pekerjaan lab. Seringnya saya datang ke lab setelah jam 11 siang, karena paginya masih harus mengalami morning sickness, dan saat kerja pun harus bolak-balik kamar mandi, berlutut di toilet dan muntah-muntah di sana, trus kembali lagi kerja. Begitu terus sampai bulan 7 kehamilan, yang ternyata masih sama mualnya. Supaya semangat ngelabnya, saya selalu menghadiahi diri saya sendiri setelah selesai bekerja, dengan MAKAN ENAK!! Ya, walaupun di Belgia sini gak ada martabak manis, atau gorengan, juga masakan padang, tapi alhamdulillah masih banyak Resto yang makanannya juga enak-enak. Jadi kadang habis ngelab saya telepon teman saya yang sama-sama hamil: Yuk, makan di IKURA SUSHI!! trus kita makan udang tempura banyak bangettt, atau sendirian aja tiba2 ke resto itali makan spaghetti seafood, atau ke resto turki. Haha, jadilah saya tetap bumil yang bahagia 🙂

10295805_10204908213330939_2512523272047567116_n

Bumi Bahagia 5 bulan kehamilan, ini habis makan UDANG TEMPURA banyak banget XD

Di Bulan Oktober, Professor saya mulai merasa kasihan sama saya, beliau menanyakan terus keadaan saya, dan saya jawab yang sebenarnya, akhirnya beliau menanyakan bagaimana rencana melahirkan nanti, dan saya hanya menjawab, Mamah saya insya Allah akan datang menemani bulan November mendatang sampai kira-kira anak saya 1 bulan, kemudian semoga suami saya bisa datang. Ya, saat itu Mas Fikri memang belum pasti datang ke Belgia lagi, karena masih melalui proses apply visa yang sangat panjang. Bahkan bulan Oktober itu baru dalam proses legalisir, belum memasukkan dokumen, yang kabarnya dari masuk dokumen ke visa nya di issue itu bisa makan waktu 6 bulan. Saat itu saya memang sedang sangat khawatir apakah suami bisa menemani saya melahirkan.

Mengetahui kondisi saya tersebut, Professor saya mengajukan agar saya mengambil cuti saja, dan pulang ke Indonesia. Sontak saya kaget dengan ide beliau ini, antara ingin sekali pulang dan bingung tiket mamah sudah dibeli, juga bingung dengan beasiswa. Setelah pemikiran yang panjang, juga konsultasi dengan mamah, mas fikri dan juga lembaga beasiswa, akhirnya diputuskan saya pulang ke Indonesia selama 6 bulan, yaitu dari November 2014 sampai April 2015. Akibatnya saya harus membayar uang tambahan untuk tiket mamah saya yang diganti dari November ke Januari, juga beasiswa saya yang tetap sampai 2017, tidak diperpanjang. Ohya, saya juga harus keluar dari apartemen yang sebenarnya sudah saya siapkan untuk tinggal bersama calon bayi ini, sehingga untuk April nanti saya harus mencari apartemen baru. Tak apalah, hal-hal tersebut tidak seberapa dibandingkan berkumpul kembali dengan seluruh keluarga, dan terutama suami!! Sudah terbayang-bayang indahnya mempersiapkan kelahiran anak bareng, juga kemudahan2 mencari makanan enak yang gak bikin mual!! Juga kesenangan berkumpul dengan keluarga, juga kehangatan yang selalu mereka berikan.. Alhamdulillah terbang dengan Emirates ketika hamil 28 minggu pun aman, lancar jaya, bersyukur sekali di setiap penerbangannya diberikan satu kursi kosong di sebelah saya, sehingga saya bisa sedikit selonjoran. Juga tidak lupa, memakai stoking anti thrombosis yang diresepkan dokter kandungan saya di Gent: dr. Tessa Van Oostveldt yang baik hati (Kapan-kapan saya cerita ya tentang beliau)

Alhamdulillah, saat landing, setelah ambil bagasi, disambut oleh orang-orang kesayangan semuanyaaa… Akhirnya anak saya walaupun Made in Gent tapi bukan Born in Gent hehee, Alhamdulillah anak laki-laki saya ditakdirkan lahir di Bandung tanggal 18 Januari 2015 dengan nama Hudzaifah Ahsanu Rafiq..

10473726_10204056750557065_6745819415713621909_n

 

Advertisements

6 comments on “Lab Research and Pregnancy

  1. Teh Tazy, subhanallah perjuangan ketika hamil sambil ngelabnya…
    Inspiring, dan sekarang pun ngasuh sambil PhD ya teh..
    Semangat..
    Semoga dimudahkan segala urusannya…
    Sehat2 dede Hudzanya..
    Salam untuk Kang Fikri ya…

    🙂

    • Iya, Lienda.. Skrg msh berjuang ngebagi focus nya, supaya tetap balance.. Aamiin aamiin Ya Rabb, makasih banyak ya doanya, siap insya Allah disampaikan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s