Tiga Bulan Pertama Hudza di Indonesia

image

Bulan 0,1,2 dan 3

Tiga bulan pertama adalah masa penyesuaian buat saya dan mas fikri juga tentunya, sebagai orang tua. Walaupun kami telah membaca beberapa buku untuk mempersiapkan pengasuhan newborn ketika lahir, ternyata tetap saja pada kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.. Sangat sulit, dan kami jungkir balik menemukan ritme yg asik untuk mengasuh newborn, tentu dengan bantuan keluarga juga..

Polemik ASI
Hal pertama yang paling berat kami rasakan adalah ketika ASI saya belum keluar.. Sedih rasanya ketika orang orang yang menengok menanyakan: “ASI nya banyak keluarnya? Apaaahh? Belum keluar?? Jadi hudza belum makan apa2?? Wah, kok bisaa ya, di keluarga kita ga pernah kayak gini..” Pertanyaan2 beruntut yang sangat memojokkan saya membuat saya sangat sedih, apalagi ketika Hudza akan disusui orang lain.. Saat itu rasanya saya ga lengkap jadi ibu kalau gak bisa nyusuin.. Tapi saya abaikan ego saya saat itu, dan membiarkan Hudza disusui, asal jangan pakai susu formula dan pakai dot saja.

Saat itu terjadi, saya masih di rumah sakit dan bersiap pulang, sudah nitip mamah untuk membelikan pompa ASI. Kami baru ngeh pentingnya punya pompa ASI, selain untuk menyimpan ASI perah, pompa ASI juga bisa merangsang keluarnya ASI.. Namun ternyata, pompa ASI manual merk Medela ini sangat sakit dipakainya, dan ternyata tidak terlalu efektif merangsang keluarnya ASI, akhirnya saya coba pompa chicco milik saudara.. Pompa yang bentuknya seperti terompet, dan tidak bisa menampung ASI, jd memang khusus untuk merangsang keluarnya ASI.. Bagus juga, dan setelah saya berjuang dari sore hingga malam, dengan terus menyusui hudza juga walau belum keluar, akhirnya Selasa malam tetes demi tetes kolostrum, ASI pertama keluar.. Alhamdulillah, akhirnya Hudza bisa merasakan langsung ASI dari saya..

Namun, perjuangan belum berakhir sampai saat ASI sudah keluar saja.. Karena ternyata ASI yang saya produksi masih belum mencukupi untuk Hudza. Sehingga setiap hari hudza mimi ASI hampir sepanjang hari, tiada henti, lamaaa sekali menyusu, dan sepertinya jarang puas, dilihat dari tidurnya yang tidak pulas, dan sebentar2 bangun minta ASI. Sehingga malam2 saya dan mas fikri diwarnai dengan tangisan hudza dan kami bergantian tidur.. Pertama hudza mimi ASI dan mas fikri tidur, kalau hudza sudah kelamaan mimi nya mas fikri yang bangun dan menenangkan hudza, sampai2 terkadang mas fikri harus tidur sambil menggendong hudza, karena itulah satu2nya cara supaya hudza bisa anteng bobo. Ditambah lagi ketika periksa ke dokter seminggu setelah hudza lahir, ternyata berat badannya turun sekitar 300 gram!!!! Melebihi 10% berat lahirnya, alhamdulillah saat itu gak kuning, dan hudza dinyatakan sehat dan gak dehidrasi, jadi gak harus masuk rumah sakit. Tapi saya mengkhawatirkan kondisi ASI yang tidak mencukupi, takut hudza pertumbuhannya gak baik..

Ikhtiar pertama kami coba pergi ke klinik laktasi, yang terdekat di Boromeus. Di sana hudza ditimbang lg, alhamdulillah sudah naik 200gr dalam 2 minggu, tapi belum kembali ke berat lahir. Tapi kata susternya, kenaikan berat hudza sudah normal, yaitu minimum 100 gram seminggu, jd sebenarnya saya hanya perlu bersabar, berbahagia dan gak panik!! Haha, bener banget apa yang suster itu bilang, sejak hudza lahir saya sulit sekali rileks, dibilang baby blues juga enggak, karena saya merasa senang, terkecuali mungkin ketika banyaknya kunjungan ke rumah yang menanyakan tentang ASI, lalu menyarankan ini-itu.. Terlalu capek saya dijudge orang lain tentang ASI, jd daripada dengerin saran yang cuma berdasarkan mitos dan katanya, lebih baik saya ke konselor laktasi kan?? Nah, selain timbang berat badan hudza, kedua PD saya coba diperah, yang ternyata memang hasilnya sangat sedikit, yang kiri hanya membasahi botol, nyiprat2in botol, yang kanan hanya 30 ml. Tapi mereka hanya menyarankan terus saja minum obat resep dari dokter (lactamam, semacam sari daun katuk gt), juga makan bergizi yang banyak, dan jangan lupa air putih selalu stiap sebelum dan sesudah menyusui. Kemudian saya hanya disuruh datang lagi 2 minggu setelahnya.

Alhamdulillah, pada umur hudza yang menginjak 1 bulan, beratnya sudah 3,3 kg.. Dalam 2 minggu saja, hudza naik 500 gram beratnya.. Dan polemik ASI pun berakhir, apalagi ketika saya mulai mengonsumsi ASI booster (berupa teh herbal gitu) ditambah mama soya dan mama honey.. Hehe, memang betul semua usaha saya lakukan untuk dapat ASI banyak, sehingga Hudza bisa tetap ASI eksklusif, dan yang terpenting cukup untuk tumbuh kembang yang sempurna..

image

Lihat perbedaan aku di umur 1 bulan (Februari) dan 3 bulan (April).. Alhamdulillah aku jd endut beratku 5,4 kg pas 3 bulan

Check up pasca lahir, imunisasi dan perkembangan Hudza
Selain masalah berat badan Hudza di bulan pertama nya karena ASI yg masih sedikit, alhamdulillah Hudza tidak mendapat penyakit berarti selama 3 bulan pertama. Kami pun setiap check up sama dr. Dewi Purnama, di RS Hermina Arcamanik, yang sejak lahir menangani hudza, walaupun praktek nya terbatas sekali di Hermina, tapi kami malas cari2 lagi sih, kan untuk imunisasi aja. Dan alhamdulillah beliau pun dokter anak yg santai aja masalah berat badan, pro asi, kalau orang2 bilang hehe.. Pas hudza turun bgt aja ga dipermasalahin, yg penting ga dehidrasi dan terus aja disusuin.. Di akhir pertemuan, abis suntik Hepatitis B yang kedua kalo ga salah, kami sempet foto bareng, sekalian perpisahan mau ke Belgi, dan tentuu Hudza nangis dong, kan abis disuntik juga..

image

Mengenai perkembangan Hudza, banyak kemajuan pesat di 3 bulan kelahirannya, dari mulai tiba2 bisa tengkurep sendiri, walaupun abis itu kalau disuruh tengkurep sendiri ga mau, masih belum lancar sih intinya mah, bisa interaksi sama orang, senyum dan ketawa2, sampai, bisa mengangkat kepala 45° wiiiiii Alhamdulillah Hudza hebat..

image

Foto atas percobaan awal, dan kedua, sudah fasih, yeay

Perawatan Hudza
Sejak di Rumah Sakit, Hudza hanya dipakaikan popok kain saja, dan saya diajarkan oleh suster untuk mengganti popok. Penggantian popok kami lakukan bergantian, kadang saya, kadang juga mas fikri.. Dan pup nya newborn itu masih cukup banyak dan sering, juga berwarna hijau selama 3 hari pertama, yang merupakan mekonium, yaitu feses bayi dari saat dia masih di dalam kandungan, yang belum dibuang. Setelah itu, fesesnya akan kekuningan.. Nah, kami sudah cukup bisa mengganti popok newborn, tapi masalahnya, tidak ada pengajaran memandikan bayi secara langsung. Di Hermina memang ada kelas menyusui dan perawatan newborn, tapi tidak dipraktekkan dengan bayi nya, jadi pas pulang ke rumah, saya dan mas fikri masih kebingungan, juga sangat takut. Mamah juga sudah lama ga pegang newborn, apalagi yang tali pusarnya belum puput/lepas.. Katanya rentan infeksi kalau dimandikannya tidak bersih dan tidak dikeringkan dengan sempurna. Saya juga membaca di buku pregnancy book, kalau sebenarnya bayi yang belum puput tali ari nya tidak usah dimandikan, cukup dilap-lap saja dengan kapas basah, atau pakai waslap. Awalnya kami mau memakai cara “bule” saja hehehe, tapi asisten rumah tangga kami kenal dengan semacam paraji (tapi bukan dukun lho ya), yang suka banti orang2 melahirkan, mandiin bayi, sampaiiii bisa bikin bengkung (itu lho, the infamous javanese belly binding, untuk mengembalikan perut ibu setelah melahirkan), dan massage PD!! Wah, cocok!! Kebetulan saya juga masih bingung gmana pakai bengkung dan butuh sekali relaksasi tubuh hehe. Jadi, selama 40 hari pertama Hudza dimandikan oleh beliau, namanya Ibu Nandar.. sambil saya juga belajar langsung dengan beliau, mas fikri juga belajar.. Tiap hari sy juga dipakaikan bengkung, walaupun saya kadang malas dan dilepas di tengah hari karena eungap (hehehe). Ohya, beliau juga yang mencukur rambut Hudza pas akikah, dan saat umur 3 bulan menjelang kepergian ke Eropa. Wih, entah gimana ya kalau saya jadi melahirkan di eropa, tanpa sanak saudara dan paraji, ga ada yang mijetin juga. Alhamdulillah saya mendapat kemudahan2 seperti ini..

Ohya, selain dimandiin pertama kali sama paraji, Hudza juga cobain spa baby yg lagi kekinian di Indo. Kami memilih di Galenia, karena sudah familiar saja dengan tempatnya, yaitu tempat saya ikut yoga..

Selama baby spa hudza senang dipijatnya, tapi selama disuruh berenang di kolam, dia takut sekali ketika dilepas, jadi berendamnya cuma 5 menisepertinyaenernya di Galenia ada juga fasilitas belajar baby spa buat ibunya, tapi sayamh sekali lg penuh. Padahal menyenangkan sepertinya bisa pijat anak sendiri..

image

Jelang keberangkatan ke Belgia
Setelah sebulan pertama penuh drama ttg ASI, sekitar bulan Februari saya mVisa persiapan kembali ke Belgia, karena saat itu masa cuti saya sudah mau habis. Saya harus kembaki ke Belgia April tgl 24, dan mulai kerja lg bulan Mei. Saya bertekad mau bawa Hudza saat itu, karena masih pengen ASI eksklusif. Mamah juga bersedia menemani dulu sampai Mas Fikri bisa menyusul, sekitat bulan Juni. Jadi, tentu kami perlu mempersiapkan dokumen2 Hudza:
1. Kartu Keluarga, untuk buat paspor
2. Pasphoto untuk Visa.
3. Paspor
4. Visa, saat itu kami memilih visa turis saja dulu, baru diurus residence nya di Belgia. Kami memilih membuat visa schengen di Kedutaan Belanda karena terkenal cepat dan gak ribet, untuk masuk belgia pun memang harus lewat Kedutaan Belanda dl untuk Visa Turis.
5. Medical check up Hudza yang ditanda tangan oleh dokter yang ditunjuk kedutaan belgia, juga dicap oleh kedutaan belgia. Ini untuk mengurus residence permit nanti di Belgia.
6. Tiket one-way ke Belgia. Untuk hal ini kami memilih emirates, tentu disamakan dengan tiket saya dan mamah yg sudah lebih duku dibeli. Kami beli tiket langsung di emirates office di Pacific Place, seharga $80, sudah sekaligus di arrange tempat duduk yang dapat basinet, juga dapat bagasi 10kg dan stroller boleh masuk bagasi. Pelayanannya sangat bagus deh di sana..

Untuk urusan 3 terakhir, kami jadi harus ke Jakarta, bersyukur nya, urusan visa dan medcheck bisa beres dalam waktu dua hari saja, tp ternyata sore harinya kami terjebak macet akibat long weekend jd ditambah menginap satu hari lagi di rumah adiknya nenek dr mamah di Bekasi. Bersyukur juga jadi bisa sekalian menengok beliau, dan beliau pun jd bisa lihat hudza.. Alhamdulillah

image

Bayi 3 bulan punya passport dan visa schengen.. Ambil fotonya pun penuh perjuangan 😀

Dengan selesainya visa Hudza, berarti keberangkatan ke Belgia semakin dekat, dan umur hudza sudah 3 bulan, how time really flies!! Berasa singkat banget perjalanan kami di 3 bulan itu, singkat, padat, meriah, haru, sedih, cemas, bahagia dan tentu CINTA!!! A lot of love and thanks to my husband, yang udah jadi partner terhebat dalam ngurus hudza, gantian mandiin, ganti popok, ngasih asi pake pipet, gendong sampe hudza bobo, kadang bobo sambil masih terus gendong Hudza, wowww!!! Super dad!!! Ayah ASI tersayang… Dan gak cuma di 3 bulan pertama aja, tapi supportnya juga luar biasa saat nemenin saya s3, yang insya Allah akan saya ceritakan di chapter berikutnya.

image

Ayah ASI tersayang

#ODOPfor99days
#day6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s