Breastfeeding anywhere, anytime.. (Pengalaman menyusui Hudza)

Menyusui itu pengalaman paling roller coaster yang pernah saya alami sama Hudza, mungkin juga buat Mas Fikri yg jadi #AyahASI dan keluarga yang super mendukung. Semua udah tau lah ya kelebihan ASI dibanding susu formula, selain jauh lebih sehat, kandungannya yang sempurna, lengkap dari karbohidrat sampe lemak, juga memenuhi kebutuhan kalori bayi sampai 6 bulan, dan tentunya booster imunitas bayi paling ampuh, akibat kandungan antibody ibu, yang ga ada di susu formula. Hampir semua ibu yang sayang anaknya, pasti selalu berusaha untuk kasih ASI eksklusif selama 6 bulan, dilanjut sampai 2 tahun, bareng sama Makanan Pendamping ASI. Gak hanya Stay At Home Mom (SAHM) aja yang ngotot ngasih ASI, Working Mom (WM) lebih ngotot lagi, karena harus pumping setiap sekian jam sekali untuk stok ASI Perah untuk oleh2 baby nya di rumah, yang kadang memerahnya harus dilakukan di tengah kesibukan bekerja.

Saya pun sama dengan ibu-ibu yang lain.. Walaupun perjalanan ng-ASI di awal tidak semulus yang dibayangkan, saat ASI msh belum keluar, trus masih seret, tapi Alhamdulillah berangsur2 ASI saya mencukupi kebutuhan Hudza.. Sampai tibalah saatnya harus kembali ke lab, di Belgia, saat belum punya stok ASIP, dan ASI saya yang belum melimpah ruah, sehingga saya masih kesulitan memerah, apalagi kalau masih ada Hudza, seharian ASI nya ya habis untuk konsumsi Hudza saja. Paling banyak 30 ml yang bisa disisihkan untuk Hudza. Karenanya, di minggu awal sekembalinya ke Belgia, saya yang awalnya super frustasi dan sedih, berakhir pasrah. Baiklah, untuk menambal ASIP yang kurang, saya coba bekalkan susu formula di daycare, sambil saya terus mompa di kampus, dengan harapan bisa dapat hasil perahan lebih banyak, dan Hudza akhirnya bisa stop sufor nya.. Dan memang benar hasil perahan saya meningkat, tentu karena Hudza ga mimi ASI selama waktu bekerja ya, dari awalnua hanya 30 ml, bisa sampai 80 ml, cuma itu pakai medela manual, dan kerasa capek bangey mompa nya.. Sampai akhirnya saya bisa dapet pompa medela elektrik dari teman di Belgia.. Alhamdulillah sekali perahnya bisa sampai 120-an ml, memang jauh sekali dibanding orang2 yang bisa sampai 200-an ml sekali perah, tp saya sudah sangat bersyukur dengan hasil perahan saya ini.. Apalagi mengingat perjuangannya yg harus bolak balik pindah gedung hanya untuk mompa, setiap sekitar 3-4 jam sekali, disambi ngerjain kerjaan lab yang jg makan tenaga. Alhamdulillah sejak saat itu, sekitar Juni 2015, setelah sebulan nambal sufor, Hudza full asi lagi, walaupun kata pengasuhnya di daycare, sebenarnya masih kurang asupan ASIP nya. Waktu itu Hudza cuma minum 200-an ml ASIP selama ditinggal Bunda di daycare, tp ketika ditawari Sufor, Hudza menolak, sampai nangis2, kadang mau cuma 30-60 ml kalau memang haus banget. Tapi alhamdulillah Hudza tumbuh kembang nya justru sangat bagus di bulan2 itu, jadi walaupun dibilang kurang asupan susu pas siang, tp asupan malam dan pagi hari mencukupi buat Hudza.. Sampai bulan 6, Hudza bahkan sudah mencapai 6,9 gram.

image

Hasil perahan di kampus, yg kiri pakai medela manual, yang kanan pakai medela swing elektrik, lumayan beda nya, dan gak capek..

Sesudah masuk periode makan, Hudza jadi sama sekali stop sufornya.. Karena dia udah nolak botol, mungkin krn sudah kenal sendok juga kali ya.. Jadi dari umur 6-12 bulan, Hudza hanya minum ASI di pagi, sore dan malam hari saja.. Siangnya makan 3x, gantinya susu, dia makan buah2an dan roti di daycare. Tidak ada masalah sampai Hudza menginjak umur 11 bulan, beratnya gak naik naik dari umur 8 bulan, malah jadi turun 300 gram karena sakit hampir sebulan.. Jadi menurut saran dokter, Hudza harus minum suplemen susu tambahan (sufor), dengan penambah kalori (maltodekstrin-fantomalt), dikentalkan dengan semacam sereal bayi, namanya cerelac, dikasihnya pakai sendok, 60mlx3 per hari.. Setelah 3 minggu makan suplemen itu, Hudza naik berat badannya, jd memang ampuh bgt, dari 7,22 sampe 7.94.. Woww bangeett.. Nah, tapi sesampainya di Indonesia ini, Hudza sulit sekali makan, bahkan suplemennya juga jarang tersentuh. Belum kontrol juga berat badannya sesampainya di Bandung. Makanya, besok mau kontrol lg ke dokter anak, terutama tentang makannya Hudza, pertumbuhannya dan yang paling sedih adalah penyapihannya.. Iyaa, di umurnya yang masih setahun ini akhirnya Hudza terpaksa harus disapih. Gak lagi mimi ASI, karena Bundanya harus kembali ke Belgia dan Hudza ditinggal sama ayah dan keluarga di Bandung.. Sejauh ini Hudza masih lumayan sering mimi ASI, terutama kalau mau tidur. Oh ya, selama di pesawat ASI juga penyelamat banget supaya bikin Hudza ga rewel dan jadinya bisa bobo nyenyak.

Besok jadinya ke dokter juga mau sekalian konsul untuk penyapihan ini. Well, memang Bunda belum bisa kasih full ASI untuk Hudza sampai 2 tahun, dengan segala drama sampai saat ini ya Hudza boy, tapi semoga Hudza selalu ingat kalau Bunda dan Ayah selalu berharap dapat memberikan yang terbaik buat Hudza, kalau pun untuk kondisi tertentu, sufor lah yang terbaik (saat ASI tidak ada). Semoga Hudza juga bisa mengingat perjuangan Bunda dan Ayah untuk selalu memberikan ASI di mana pun dan kapan pun selagi bisa 🙂 dan Semoga apa2 yang masuk ke dalam tubuhmu, baik itu ASI, sufor, makanan, selalu membawa berkah buat Hudza tumbuh dan berkembang sempurna juga jd anak yang soleh..

Maafkan sekali lagi karena Bunda harus menyapihmu begitu dini. Perjalanan ASI kita memang singkat, tapi perjalanan kasih sayang Bunda buat Hudza tentu sangat panjang. To infinity and beyond….

image

Menyusui di Antwerpen Central Station

#ODOPfor99days
#day14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s