Happy being reunited

image

Bulan Juni 2015 adalah bulan dipertemukannya kembali seorang istri dengan suaminya, seorang anak dengan ayahnya. Bulan dipersatukannya kembali keluarga kecil kami, setelah 1,5 bulan berpisah lain benua. Momennya unforgettable tentunya, senang saat pertama kali lihat Mas Fikri lagi di Airport, dan Hudza yang saat itu masih 4,5 bulan, sempat melongo di awal, mungkin bertanya2, ini siapa yaa hehe, tapi ada satu gesturnya Hudza, tersenyum dan akhirnya bisa ketawa, yang menandakan Hudza sudah sadar dan kenal, bahwa itulah ayahnya, yang selama satu setengah bulan cuma ia lihat di layar hape kalau lagi video call.

image

Jemput ayah di Airport

Setelah itu, hidup bertiga saja bukan berarti jadi mudah, tentu banyak lika liku nya, suka duka nya, tapi tentu lebih banyak bahagia nya, karena kebersamaan saja sudah merupakan suatu kebahagiaan. Saat kami berkumpul kembali, menjadi sebuah tim, tentu ada pertukaran peran untuk sementara. Saya bekerja di lab demi menyelesaikan riset, dari pagi hingga sore, sedangkan Mas Fikri di rumah dulu. Pagi mengurus dan mengantar Hudza ke daycare, sampai rumah beres2 rumah, kadang laundry dan juga masak, sambil masih kuliah online, juga kadang ngerjain perkerjaan yang dibawa dari Indo, sore nya Mas Fikri jemput Hudza. Ayah super hebat!! Saya kadang lupa bersyukur betapa Allah sudah berikan suami yang begitu baiknya, begitu berdedikasinya untuk keluarga, juga segitu mendukungnya buat saya supaya menyelesaikan S3. Memang banyak suami2 yang romantis, pandai berkata2, menulis puisi juga tulisan indah, juga memberi istrinya hadiah dan bunga, kadang saya memang iri, tapi sungguh, jarang ada suami seperti Mas Fikri, yang rela bertukar peran untuk sementara. Dan bertukar peran sementara ini pun ia jalankan begitu total, terutama saat harus memasak. Sebenarnya sang istri tidak mengharapkan masakan yang muluk2, cukup telor dadar ada di rumah ketika pulang lab saja sudah cukup. Tapi tak jarang Mas Fikri mengagetkan dengan masakannya yang begitu enak, kadang gulai iga, sop ikan asam, rawon, shabu2, ayam goreng tradisional yang diungkep tea, dan sekarang Mas Fikri pun sudah jago tumis menumis sayuran..
Satu hal yang terus menerus saya ingatkan kepada diri sendiri, bahwa bertukar peran ini bukan jadinya bertukar peran total.. Tetap saja Mas Fikri adalah suami yang saya harus taat padanya, yang ridho Allah ada padanya, jd selain berterima kasih, juga saya harus tetap hormat padanya. Dan tentu pertukaran peran ini hanya sementara. Nanti ketika saya sudah selesai kuliahnya, saya sudah camkan dalam hati, dan juga sudah didiskusikan, bahwa Mas Fikri bebas memilih jalan hidup keluarga kami setelah itu. Entah Mas Fikri ingin sekolah lagi, atau bekerja atau berwirausaha, giliran saya yang mengikuti panggilan jiwa nya nanti. Dan insya Allah saya bisa siap mendampingi Mas Fikri, juga dengan total.

Ohya, dan sekarang kami sekeluarga harus kembali berpisah. Sabtu besok, 6 Februari, saya harus kembali mengerjakan riset s3 di Belgia, dan Mas Fikri serta Hudza di Bandung, untuk penyelesaian thesis s2 Mas Fikri di ITB yang sempat tertunda.. Semoga, insya Allah ada saatnya kita berkumpul kembali, dan tidak lagi terpisah jarak.. I am gonna miss you both..

image

Our most recent family picture, taken in Bandung

#ODOPfor99days
#day15

Advertisements

2 comments on “Happy being reunited

  1. Teeh,,, terharu iiihh mas Fikri super keren. Insya Allah, semoga dimudahkan jalannya sampe Mas Fikri lulus dan bisa ‘reunited’ di Gent lagi.. Teteh take care di Belgia yaaaa.. Yg pasti jgn jd beban pikiran, insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s