Fragile, handle with care!! (cerita seminggu LDR sama anak)

“Gimana liburannya di Indonesia?”

“Apa kabar Hudza?”

“Kok Hudza pulang ke Indonesia? Sampai kapan?”

” Wah, sekarang kamu datang ke lab lebih pagi ya? Ada apa?”

Pertanyaan2 sejenis itu lah yang gak pernah absen ditanyakan setiap hari semenjak kepulangan saya sendirian ke Belgia, tanpa anak dan suami. Biasanya berujung jawaban penjelasan yang panjang, dan air mata. Gak mesti bercucuran air matanya, kadang iya sih, lebih sering iya, tapi kadang juga harus saya tahan, jd cuma sampai di pelupuk mata, gak boleh sampai jatuh, apalagi kalau yang nanya kolega di lab, sekretariat departemen, apalagi professor kan, gak boleh sampai nangis!!

Tapi ya gitu jadinya, rapuh banget, disentuh dikit pecyah deh. Misal, pas sampai rumah pertama kalinya, sendirian, lihat rumah, segala sudutnya inget Hudza dan Mas Fikri (Nah kan, nulisnya aja udah nangis), liat kursi makan Hudza, nangis, liat kursi, inget Hudza yang suka dorong2, apalagi kasur, inget tiap malem mimiin Hudza. Wah, hari pertama mah kacau bapernya. Sampe tidur pun masih suka kebangun2 gara2 selama setaun kan pola tidurnya terinterupsi karena mimiin ASI, jadi otomatis aja gitu kebangun, tapi terus sedih disamping ga ada siapa2. Langsung ambil wudhu, witir dan berdoa, semoga dikuatkan. Kalau Mas Fikri selalu bilang, gapapa nangis, mudah2an supaya jadi lebih kuat, akibat lihat twit saya pas LDR-an dulu kalau air mata itu sebenarnya membangun kekuatan. Yaudah saya gak tahan2 lagi, keluarin aja tangisannya mumpung di rumah dan keesokan harinya harus ngelab lagi, supaya udahan sedih2nya. Nyatanya tidak, masih ada pertanyaan2 bertubi2 tersebut yang membuat pecah tangisannya, alhasil seharian itu mata sembab memerah, sambil tetap ngelab tentunya, untung orang sini ga pada kepo, jd aman ga ditanyain ttg mata sembab dan berair.

Makin hari sebenarnya bisa dibilang makin baik, pulang ke rumah udah gak nangis lagi, akibat cape, jd memang inginnya langsung istirahat dan tidur. Tapi memang ya cuaca Gent yang tidak menentu ini, apalagi beberapa hari ke belakang yang cenderung mendung dengan hujan rintik-rintik, memang cocok bikin baper, alhasil, pulang ngelab walau cape, masih aja sesenggukan di dalam bis, atau pas pergi lab pagi tadi, entah lagi kepikiran apa sampai harus mengatur napas, sambil berdzikir supaya hati lapang dan gak lagi bersedih. Masya Allah, berat ternyata berpisah dari anak itu. Beda banget rasanya ketika pisah sama suami, yang hilang beberapa hari, ini hampir seminggu dan rasanya beraaattt gitu dada nya.

Rasanya gimana yaa, di satu sisi kepengeeeennnn sekali cerita panjang lebar menumpahruahkan isi hati, tapi di sisi lain, gak pengen juga nangis2an, takutnya malah keluar keinginan buat pulang aja (walaupun sering terlintas di pikiran), dan jadinya impulsif ngambil keputusan, lagipula sisi diri saya yang pura2 kuat ini juga pengen yasudahlah, fokus aja ke kerjaan, gak usah bawa2 perasaan, makanya setiap saya kepikiran ke sedih2an, suka saya alihkan, sebisa mungkin tahan air mata, tapi sambil dalam hati tercetus, ini baik gak sih ke psikologis kalau nahan2 perasaan terus??

Astaghfirullah, mungkin saya masih kurang dzikir, kurang dekat sama Allah sehingga masih saja merasakan kekosongan hati. Kalau ada saran untuk mengurangi sesak-dada-pengen-nangis-akibat-LDRan-sama-anak, atau tips2 saat bepisah sementara sama anak, I really appreciate it lho…

 

#ODOPfor99days

#day18

 

Advertisements

One comment on “Fragile, handle with care!! (cerita seminggu LDR sama anak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s